Selasa, Juni 07, 2022

SA 260 (Revisi) – Komunikasi dengan Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata Kelola




SA 260 (Revisi) – Komunikasi dengan Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata Kelola

Pendahuluan & Tujuan

Auditor harus mengomunikasikan masalah audit kepentingan tata kelola yang timbul dari audit LK dengan TCWG suatu entitas.

Pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola: Orang yang bertanggung jawab untuk mengawasi arah strategis entitas (umumnya, manajemen tingkat atas).

Manajemen – Orang dengan tanggung jawab eksekutif untuk menjalankan operasi entitas (umumnya, manajemen tingkat menengah & bawah).

Tujuan

  1. Mengkomunikasikan secara jelas dengan TCWG tanggung jawab auditor terkait dengan audit laporan keuangan, dan gambaran umum tentang ruang lingkup dan waktu audit yang direncanakan;

  2. Memperoleh dari TCWG informasi yang relevan dengan audit;

  3. Memberikan TCWG pengamatan tepat waktu yang timbul dari audit yang signifikan; dan

  4. Memajukan efektif dua arah komunikasi antara auditor dan TCWG.

Pihak  dan Hal – hal yang Relevan

Auditor harus menentukan orang yang tepat dalam struktur tata kelola entitas untuk berkomunikasi.

  1. Komunikasi dengan Subkelompok TCWG

  2. Ketika semua TCWG terlibat dalam mengelola entitas (tidak perlu berkomunikasi lagi jika sudah dikomunikasikan kepada mereka sebagai manajemen)

Mengaudit Masalah Kepentingan Tata Kelola yang Perlu Dikomunikasikan:

  1. Tanggung Jawab Auditor Sehubungan Dengan Audit Laporan Keuangan

  2. Ruang Lingkup dan Waktu Audit yang Direncanakan

  3. Temuan Signifikan dari Audit

  4. Independensi Auditor

Bentuk Komunikasi

  • Auditor harus berkomunikasi secara tertulis dengan TCWG mengenai:

    1. temuan signifikan dari audit

    2. independensi auditor

  • Jika masalah dikomunikasikan secara lisan, auditor harus mendokumentasikannya. Jika masalah telah dikomunikasikan secara tertulis, auditor harus menyimpan salinannya.

  • Auditor harus berkomunikasi dengan TCWG tepat waktu. Ini memungkinkan TCWG untuk mengambil tindakan yang sesuai.

  • Untuk menghindari kesalahpahaman, surat perikatan audit dapat:

    1. Jelaskan bentuknya;

    2. Identifikasi orang-orang yang relevan dengan siapa komunikasi tersebut akan dilakukan;

    3. Identifikasi masalah audit tertentu yang menjadi kepentingan tata kelola yang akan dikomunikasikan.

  • Komunikasi antara auditor dan TCWG tidak dapat dianggap sebagai pengganti opini yang wajar, tidak wajar, atau menolak memberikan pendapat.

Risk of Material Misstatement, Apa Itu ?




Risk of Material Misstatement 

Risiko salah saji material mengacu pada risiko bahwa laporan keuangan salah saji secara material dan tidak menyajikan pandangan yang benar dan wajar. Risiko salah saji material dinilai pada dua tingkat (i) tingkat laporan keuangan dan (ii) tingkat asersi.

Untuk mendalami risiko salah saji material, pertama-tama Anda harus mengetahui apa sebenarnya arti istilah salah saji material dari sudut pandang akuntansi dan audit. Salah saji material terkait dengan informasi yang ada dalam laporan keuangan. Salah saji material menyebabkan pengguna laporan keuangan menderita kerugian ekonomis. Salah saji berarti informasi yang disarankan untuk ada dalam laporan keuangan tidak benar-benar apa yang tertulis di sana. Risiko keseluruhan meningkat ketika kasus tersebut muncul dan dengan demikian meningkatkan risiko salah saji keuangan.

Risiko dalam salah saji keuangan menyebabkan perubahan semua risiko lain yaitu risiko audit, risiko pengendalian, risiko bawaan, dll. Untuk mengendalikan risiko salah saji material, auditor memilih prosedur berbeda yang mengurangi situasi yang salah ini. Umumnya disarankan dan dilaksanakan oleh mayoritas auditor untuk mencatat semua akun material dalam bentuk aset secara terpisah. Jika suatu aset menempati lebih dari 5 persen dari total aset, itu harus dicatat secara terpisah. Dengan teknik ini, laporan keuangan akan lebih transparan dan jelas, dan auditor akan menemukannya dalam situasi yang mudah untuk menemukan kesalahan jika ada dan juga memperbaikinya dalam waktu yang lebih singkat.

Tentang Materialitas dan Resiko Audit




Tentang Materialitas dan Resiko Audit 

Materialitas

Yaitu suatu nilai informasi akuntansi yang dihilangkan atau salah saji dalam lingkungan yang berlaku, mungkin akan mengubah pertimbangan seseorang yang bersandar pada informasi tersebut karena hilangnya atau salah saji informasi tersebut.

FASB mendefinisikan:

Yaitu besarnya kealpaan dan salah saji informasi akuntansi, yang dalam lingkungan tersebut membuat kepercayaan seseorang berubah atau terpengaruh oleh adanya kealpaan dan salah saji tersebut. Tanggungjawab auditor adalah menentukan apakah laporan keuangan mengandung kesalahan yang material.

Adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya. Dapat mengakibatkan perubahan atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut. Definisi tersebut mengharuskan auditor untuk:

  1. Keadaan yang berkaitan dengan entitas, dan

  2. Kebutuhan informasi pihak yang akan meletakkan kepercayaan atas laporan keuangan auditan.


Langkah-langkah dalam menerapkan materialitas:

  1. Menetapkan pertimbangan awal materialitas.

  2. Mengalokasikan pertimbangan awal materialitas kepada segmen audit.

  3. Mengestimasi keseluruhan dalam segmen.

  4. Mengestimasi keseluruhan kesalahan.

  5. Membandingkan keseluruhan estimasi dengan pertimbangan awal materialitas yang telah direvisi.


Pertimbangan Pendahuluan tentang Materialitas

Karena sifatnya yang relatif maka tingkat materialitas dapat berubah. Selama pelaksanaan audit tingkat materialitas bisa berubah-ubah karena;

  1. Kondisi sekeliling yang mempengaruhi perusahaan berubah.

  2. Tambahan informasi tentang klien mungkin diperoleh selama pelaksanaan audit.

Tingkat materialitas awal yang direncanakan (planning materiality) suatu perusahaan dapat berubah karena kedua hal tersebut. Sebagai contoh, tingkat materialitas yang direncanakan bagi perusahaan yang terancam bangkrut adalah 0,5 % dari modal sendiri. Apabila perusahaan itu dapat melepaskan diri dari masalah kebangkrutan tersebut, maka tingkat materialitas akan dinaikkan misalnya menjadi 1 % dari modal sendiri.

Sebagimana dikemukakan diatas, konsep materialitas ini diterapkan di dalam merencanakan pelaksanaan audit. Dalam perencanaan audit, auditor menentukan materialitas pada dua tingkat:

Materialitas pada tingkat laporan keuangan.

Salah saji dapat disebabkan:

  1. Salah penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

  2. Penyimpangan dari kenyataan sesungguhnya.

  3. Penyembunyian informasi yang mestinya perlu diungkapkan.

Materialitas pada tingkat saldo akun.

Pengalokasian materialitas dapat dilakkukan dengan tiga cara yaitu:

  1. Besar relative akun.

  2. Besar variable akun.

  3. Pertimbangan profesional.


Materialitas, Risiko Audit, dan Strategi Audit Awal

Auditor tidak dapat memberikan jaminan bagi klien atau pemakai laporan keuangan yang lain karena ia tidak memeriksa setiap transaksi yang terjadi dalam tahun yang di audit dan tidak dapat menentukan apakah semua transaksi yang terjadi telah dicatat, diringkas, digolongkan, dan dikompilasi secara semestinya ke dalam laporan keuangan.

Oleh karena itu, dalam audit atas laporan keuangan auditor memberikan keyakinan berikut ini:

  1. Auditor dapat memberi keyakinan bahwa jumlah–jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan beserta pengungkapannya telah dicatat, diringkas, digolongkan, dan dikompilasi.

  2. Auditor dapat memberikan keyakinan bahwa ia telah mengumpulkan bukti audit kompeten yang cukup sebagai dasar memadai untuk memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan.

  3. Auditor dapat memberikan keyakinan, dalam bentuk pendapat, bahwa laporan keuangan sebagai keseluruhan disajikan secara wajar dan tidak terdapat salah saji material karena kekeliruan dan kecurangan.


Dua konsep yang melandasi keyakinan yang diberikan auditor:

  • Konsep materialitas menunjukkan seberapa besar salah saji yang dapat diterima oleh auditor agar pemakai laporan keuangan tidak terpengaruh oleh salah saji tersebut.

  • Konsep risiko audit menunjukkan tingkat risiko kegagalan auditor untuk mengubah pendapatnya atas laporan keuangan yang berisi salah saji material.

Auditor melakukan pertimbangan awal tentang tingkat materialitas dalam perencanaan auditnya. Pertimbangan materialitas mencakup pertimbangan kuantitatif dan kualitatif. Berikut ini contoh pertimbangan kuantitatif dan kualitatif:

  • Hubungan salah saji dengan jumlah kunci tertentu dalam laporan seperti:

  1. Laba bersih sebelum pajak dalam laporan keuangan.

  2. Total aktiva dalam neraca.

  3. Total aktiva lancar dalam neraca.

  4. Total ekuitas pemegang saham dalam neraca.

  • Faktor kualitatif, seperti:

  1. Kemungkinan terjadinya pembayaran yang melanggar hukum.

  2. Kemungkinan terjadinya kecurangan.

  3. Syarat yang tercantum dalam perjanjian penarikan kredit bank yang mengharuskan klien untuk mempertahankan rasio keuangan pada tingkat minimum tertentu.

  4. Adanya gangguan dalam trend

  5. Sikap manajemen terhadap integritas laporan keuangan.

Auditor menggunakan dua cara dalam menerapkan materialitas. Pertama, auditor menggunakan materialitas dalam perencanaan audit. Kedua, pada saat mengevaluasi  bukti audit dalam pelaksanaan audit. Oleh karena itu, auditor harus mempertimbangkan dengan baik penaksiran materialitas pada tahap perencanaan audit. Dalam perencanaan audit, auditor harus menyadari bahwa terdapat lebih dari satu tingkat materialitas yang berkaitan dengan laporan keuangan.


Hubungan Materialitas dengan Bukti Audit

Materialitas merupakan satu di antara berbagai faktor yang mempengaruhi pertimbangan auditor tentang kecukupan bukti audit. Dalam membuat generalisasi  hubungan antara materialitas dan bukti audit, perbedaan istilah materialitas dan saldo akun material harus tetap diperhatikan. Semakin rendah tingkat materialitas, semakin besar jumlah bukti yang harus dibuktikan (hubungan terbalik).

 

Risiko Audit

Adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana semestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material. Auditor tidak cukup hanya menentukan materialitas dengan pertanyaan berikut ini:

Kami akan menerima bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar dan tidak berisi salah saji material jika:

  1. Total aktiva tidak mengandung salah saji lebih dari Rp.40.000.000

  2. Aktiva lancar tidak mengandung salah saji lebih dari Rp.20.000.000

Auditor harus membuat pernyataan lebih lanjut berikut ini:

Kami akan menerima, pada tingkat risiko tertentu, bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar dan tidak berisi salah saji material jika:

  1. Total aktiva tidak mengandung salah saji lebih dari Rp.40.000.000

  2. Aktiva lancar tidak mengandung salah saji lebih dari Rp.20.000.000

Risiko audit, dibagi menjadi dua:

  1. Risiko audit keseluruhan yang berkaitan dengan laporan keuangan sebagai keseluruhan.

  2. Risiko audit individual yang berkaitan dengan setiap saldo akun individual yang dicantumkan dalam laporan keuangan.

Terdapat tiga unsure risiko audit:

  • Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang terkait. Risiko salah saji demikian adalah lebih besar pada saldo akun atau golongan transaksi tertentu dibandingkan dengan yang lain.

  • Risiko pengendalian adalah risiko terjadinya salah saji material dalam suatu asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas.

  • Risiko deteksi adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Risiko deteksi ditentukan oleh efektivitas prosedur audit dan penerapannya oleh auditor.

Auditor menentukan risiko deteksi dari formula risisko audit berikut ini :

Risiko audit individual = risiko bawaan x risiko pengendalian x risiko deteksi


Strategi Audit  Awal

Tujuan akhir auditor dalam perencanaan dan pelaksanaan proses audit adalah mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah untuk mendukung pendapatnya. Dalam mengembangkan strategi audit awal, auditor menetapkan empat unsur berikut ini:

  • Tingkat risiko pengendalian taksiran yang direncanakan.

  • Luasnya pemahaman atas pengendalian intern yang harus diperoleh.

  • Pengujian pengendalian yang harus dilaksanakan untuk menaksir risiko pengendalian.

  • Tingkat pengujian substantive yang direncanakan untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah.

Apa itu Risk Assessment atau Penilaian Resiko ?




Apa itu Risk Assessment atau Penilaian Resiko ?

Penilaian Risiko atau Risk Assessment adalah penilaian suatu risiko dgn cara membandingkannya terhadap tingkat atau kriteria risiko yang telah ditetapkan.

Apa yang dimaksud dengan Penilaian Risiko atau Risk Assessment ?

Risk Assessment atau dapat diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai penilaian risiko merupakan suatu aktivitas yang dilaksanakan untuk memperkirakan suatu risiko dari situasi yang bisa didefinisikan dengan jelas ataupun potensi dari suatu ancaman atau bahaya baik secara kuantitatif atau kualitatif. Penilaian risiko juga bisa diartikan sebagai suatu proses pemeriksaan keamanan dengan suatu struktur tertentu, pembuatan suatu rekomendasi khusus, dan rekomendasi pengambilan keputusan dalam suatu proyek dengan menggunakan analisis risiko, perkiraan risiko, dan informasi lain yang memiliki potensi untuk mempengaruhi keputusan.[1] 135

Tinjauan Penilaian Risiko

Penilaian risiko berbeda dengan analisis risiko atau dengan manajemen risiko, akan tetapi antara ketiga hal tersebut terdapat hubungan yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Analisis risiko sendiri kegiatan menganalisa untuk menentukan besar kecilnya suatu risiko dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya dan besarnya akibat yang ditimbulkan.[Andani EN, 2015][[2]]

Setelah menganalisis risiko yang ada dan sebelumnya mengidentifikasi terlebih dahulu risiko sepert apa yang akan terjadi dan bagaimana suatu bisa terjadi maka tahapan selanjutnya memberikan penilaian tentang besarnya tingkatan terkait risiko tersebut. Hal itulah menjadi bagian dari penilaian risiko itu sendiri dimana memberikan makna terhadap suatau bahaya yang teridentifikasi untuk memberikan gambaran seberapa besar risiko tersebut. Sehingga dapat diambil tindakan lanjutan terhadap bahaya yang teridentifikasi, apakah bahaya itu dapat diterima atau tidak.

Dalam menilai suatu risiko terdapat standard yang bisa dipakai acuan, salah satunya ialah standard AS/NZS 4360 yang membuat peringkat risiko sebagai berikut:

·         E : Extreme Risk (Sangat berisiko segera secepatnya dibutuhkan tindakan)

·         H : High Risk (Risiko yang besar dibutuhkan perhatian dari manajer puncak)

·         M : Moderat Risk (Risiko sedang, diibutuhkan sebuah tinggakan agar risiko berkurang)

·         L : Low Risk (Risiko rendah masih ditoleransi)

Penilaian risiko sendiri bisa didefinisikan sebagai keseluruhan proses dari identifikasi risiko, analisis risiko dan evaluasi risiko [3].Terdapat 6 fokus dan tipe penialaian risiko [4]
yaitu:

·         Risiko Keselamatan

·         Risiko Kesehatan

·         Risiko Lingkungan

·         Risiko Kesejahteraan

·         Risiko Keuangan

Pertanyaan yang mendasar yang bisa dijawab dari penilaian risiko diantaranya yaitu:

·         Apa yang akan terjadi dan bagaimana bisa terjadi (Dapat dijawab ketika memasuki tahap identifikasi)?

·         Apa kemungkinan yang terjadi di masa depan?

·         Apa saja dampaknya? dan

·         Apakah ada faktor-faktor yang mengurangi kemungkinan dari risiko itu atau mengurangi dampak yang ditimbulkan akan risiko yang ada?[5] 42

Secara khusus untuk memulai Penilaian risiko terdapat hal-hal yang harus dipahami dan jelas yaitu:

·         Konteks dan objek dari organisasi

·         Risiko-risko apa saja yang bisa ditoleransi, dan bagaimana resiko yang tidak diterima akan diperlakukan

·         Bagaiaman penilaian risiko dapat diintegrasikan ke dalam proses organisasi

·         Metode dan teknik yang digunakan untuk penilaian risiko terhadapproses manajemen risiko secara kesuluruhan

·         Akuntabilitas, tanggung jawab dan kewenangan dalam melaksanakan penialaian risiko

·         Sumberdaya yang memadai untuk melaksanakan penialaian risiko dan

·         Bagaimana penilaian risiko akan ditinjau dan dilaporkan [6] 42

Hasil dari tahapan-tahapan ketika fase analisis resiko dan khususnya penilaian risiko ditindaklanjuti dengan proses manajemen risiko. Manajmeen risiko menurut Clough and Sears (1994 dikutip dalam Anonim 2009), Manajemen risiko didefinisikan sebagai suatu pendekatan yang komprehensif untuk menangani semua kejadian yang menimbulkan kerugian.

Menurut AS/NZS 4360 manajemen risiko adalah “the culture, process, and structures that are directed towards the effective management of potential opportunities and adserve effects”. Panduan untuk manajemen risiko terdapat dalam ISO 31000 yang terdiri dari 5 aktivitas kunci:

1.    Komunikasi dan konsultasi

2.    Menentukan konteks

3.    Penilaian risiko

4.    Pengendalian risiko

5.    Monitor dan review

Penggunaan Penilaian Risiko

·         Bidang Kesehatan
HRA atau penilaian risiko 
kesehatan merupakan suatu prosedur yang tersistematis untuk mengidentifikasi potensi dari bahaya kesehatan, mengevaluasi dari paparan secara subjective & atau objective, serta bertujuan untuk menentukan dan menilai efektivitas dari pengendalian yang dibutuhkannya.[7] 27

“Peniliaian Risiko juga dibutuhkan tidak hanya untuk seseorang yang memenuhi syarat untuk mammografi tetapi juga dibutuhkan untuk seseorang yang menginginkan screening MRI atau test DNA” kata Jennifer Plichta, MD, 2016 annual meeting of the American Society of Breast Surgeons (ASBS). [8] 6

·         Bidang Audit
Auditor internal menggunakan teknik penilaian risiko dalam mengembangkan 
perencanaan aktivitas audit internal dan pada penentuan prioritas untuk mengalokasikan sumberdaya. Penilaian risiko ini juga digunakan untuk pengujian unit dan pemilihan area yang akan dimasukkan dalam rencana kegiatan internal yang memiliki tingkat kerentanan terhadap risiko yang tinggi.[9] 45

·         Bidang Teknologi Informasi
Penilaian risiko adalah alat yang tersedia yang bisa digunakan oleh organisasi modern untuk 
membantu mengidentifikasi serta memberikan tingkatan terhadap resiko yang berhubungan dengan penggunaan sistem informasi dan secara tepat mengambil tindakan untuk melindungi sistem informasi. Terdapat dua metodologi terkait penilaian resiko yakni Operationally Critical Threat, Asset, Vulnerability Evaluation (OCTAVE) Risk Assessment dan Central Computer and Telecommunicationd Agency (CCTA’s) Risk Assessment. [10] 26